Malam itu, angin berhembus lebih dingin dari biasanya. Bagas berdiri di tepi dermaga tua, menatap ombak hitam yang menghantam tiang-tiang kayu yang mulai rapuh. Di tangannya, sebuah peta kuno bergetar lembut, memancarkan cahaya biru redup yang samar-samar. 'Waktunya telah tiba,' bisiknya dalam hati.
Kelanjutan kisah dan bab selanjutnya akan diperbarui secara berkala. Pastikan untuk tetap memantau halaman ini.